Hombo Batu/Lompat Batu

Fahombo atau biasa disebut Hombo Batu (lompat batu) merupakan tradisi dari daerah Kabupaten Nias Selatan (Teluk Dalam), yaitu salah satu kabupaten di Sumatera Utara yang terletak di pulau Nias.
Tradisi Lompat Batu atau Hombo batu yang dilakukan oleh seorang pria yang mengenakan pakaian adat setempat Nias dan meloncati susunan batu yang disusun setinggi lebih dari 2 (dua) meter.

Berdasarkan cerita rakyat setempat, ajang tersebut diciptakan sebagai uji fisik dan mental bagi para remaja pria di Nias menjelang usia dewasa. Setiap laki-laki dewasa yang ikut perang wajib lulus ritual lompat batu. Batu yang harus dilompati adalah berupa bangunan mirip tugu piramida dengan permukaan bagian atas datar. Tingginya kurang lebih 2 m (dua meter) dengan lebar 90 cm dan panjang 60 cm. Para pelompat tidak hanya sekedar harus melintasi tumpukan batu tersebut, tapi ia juga harus memiliki tekhnik seperti saat mendarat, karena jika dia mendarat dengan posisi yang salah dapat menyebabkan cedera otot atau patah tulang.
Read more

Pantai Di Pulau Nias

1. The Machine (Lagundri & Sorake beach area)
Tepat disebelah kanan teluk, terdapat spot yang menyajikan mesin barel untuk left-hand yang sempurna dengan gulungan ombak besar dari arah selatan dan lebih baik lagi ketika bulan purnama.

2. Telo & Batus
Kepulauan batu dikenal oleh para peselancar dengan sebutan the Telo’s yang disesuaikan dengan nama administrative daerah tersebut. Ombak di spot ini terkenal menantang dan berubah-ubah. Dari kekuatannya mampu menghempas, kekuatannya tetap besar namun sedikit jinak. Spot lain juga bisa tidak kalah bagusnya, berada disebuah pulau kecil yang ditandai dengan kehadiran bebatuan besar, pepohonan besar dan akan bertemu dengan right-hander berkualitas.
Read more

Potensi Wisata Bahari

Pulau nias memiliki pantai, tempat berselancar ke dua terbaik di dunia setelah Hawaii karena memiliki ombak besar yang menakjubkan. Peselancar Australia yang pertama kali menemukan obak yang mempesona bagi banyak peselancar di seluruh dunia ini. Saat ini Nias telah menjadi tuan rumah Indonesia Open Surfing Championship di pantai Lagundri.

Pariwisata selancar telah memainkan peran yang bermanfaat di daerah pantai selatan dekat teluk dalam karena reputasinya sebagai salah satu dari sepuluh ombak terbaik di dunia, The best Ten Surf Point in The World. Ada dua pantai yang sangat terkenal di dalam negeri maupun di manca Negara yaitu pantai Lagundri dan Sorake. Jarak antara pantai Lagundri ke Sorake hanya 2 Kilometer. Kedua pantai ini terletak di desa Botohilitano sekitar 13 Km dari Teluk Dalam ibukota Kabupaten Nias Selatan,Sumatera Utara, telah dikenal sebagai tempat berselancar sejak 30 tahun silam.” Ombak besar dengan pohon-pohon kelapa itulah yang menarik peselancar datang”. Di pantai sorake inilah salah satu surganya para pemain selancar, sehingga sering diadakan kejuaraan surfing bertaraf internasional. Karena kedua pantai ini, maka ditemukan sangat banyak tempat-tempat surfing di bagian pulau Nias yang lain seperti Asu Island, Bawa Island, Afulu Beach dan Pulau-pulau Telo. Nama dan Karakter Surf Point di Nias :

1. Asu

Dengan jajaran nyiur sebagai latar belakang, ombak ini di ujung pulau Asu, ujung utara pulau Hinako ( Hinakos Island) panjang dan hampir berbentuk left barel, ombak disini mampu membungkus dengan ukuran hingga mencapai 5 meter. Hanya untuk peselancar ahli.
Read more

Batu-batu megalit di GOMO yang terlantar

Arca-arca batu berusia ratusan tahun bisa dijumpai di halaman-halaman rumah penduduk. Di Gomo setidaknya ditemukan 14 titik yang merupakan situs batu megalit. Tapi yang sudah dibuka untuk umum baru empat situs, semua yang telah dipugar pemerintah. Semua situs itu terletak di ladang dan hutan penduduk setempat di daerah Idanotai, Lahusa Satua dan Tundu Baho. Untuk menuju ke sana hanya bisa di tempuh dengan berjalan kaki atau kendaraan roda dua. Itu pun harus menyeberangi arus sungai dan jalan setapak di pegunungan yang kemiringan konturnya mencapai 45 derajat, sangat melelahkan memang.
Pengunjung bisa ber-snorkeling dengan nyaman dari pinggir dermaga yang ada dimuseum ini. Pusaka ini menarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara, walaupun selama ini pariwisata budaya hanya menjadi kegiatan pinggiran dalam hal kontribusinya terhadap ekonomi setempat.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.